Perjuangan Melawan Tuberkulosis: Pencegahan, Diagnosis, dan Pengobatan - Abdi Waluyo Hospital
Maret 17, 2025

Perjuangan Melawan Tuberkulosis: Pencegahan, Diagnosis, dan Pengobatan

rsaw

By : Geraldus Sigap


Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit infeksi tertua yang diketahui manusia, namun hingga kini tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius. TBC tetap menjadi tantangan kesehatan global yang signifikan, terutama di negara-negara seperti Indonesia. Pada tahun 2023, Indonesia melaporkan sekitar 821.200 kasus TBC, menandai peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti tulang, otak, dan ginjal. TBC menular melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara, sehingga risiko penyebarannya sangat tinggi, terutama di lingkungan yang padat dan kurang ventilasi.

Meskipun kemajuan medis telah meningkatkan upaya penanganan TBC, penyakit ini masih menyerang jutaan orang setiap tahun. TBC menjadi perhatian khusus di wilayah dengan akses terbatas ke layanan kesehatan serta pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau pasien yang menjalani kemoterapi. Jika tidak diobati, TBC dapat berakibat fatal. Namun, dengan pendekatan yang tepat, TBC dapat dicegah, didiagnosis, dan disembuhkan. Pemahaman mengenai cara mencegah, mendeteksi, dan mengobati TBC sangat penting untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini serta melindungi kesehatan masyarakat.

Pencegahan Tuberkulosis

Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk menghentikan penyebaran TBC. Salah satu cara utama untuk mencegah TBC adalah dengan vaksinasi. Vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) telah digunakan selama beberapa dekade untuk melindungi terhadap bentuk TBC yang parah, terutama pada anak-anak. Meskipun vaksin ini tidak sepenuhnya melindungi dari TBC paru, BCG dapat mengurangi risiko komplikasi serius, seperti meningitis tuberkulosis.

Selain vaksinasi, mengurangi paparan bakteri TBC juga menjadi langkah penting dalam pencegahan. Karena TBC menyebar melalui udara, ventilasi yang baik di rumah, sekolah, dan tempat kerja dapat mengurangi risiko penularan. Orang yang tinggal atau bekerja dengan penderita TBC disarankan untuk menggunakan masker pelindung dan memastikan sirkulasi udara yang cukup.

Bagi individu dengan risiko tinggi terkena TBC, pengobatan pencegahan dapat direkomendasikan. Mereka yang telah terpapar penderita TBC tetapi belum menunjukkan gejala dapat mengonsumsi antibiotik seperti isoniazid atau rifampin untuk mencegah perkembangan penyakit. Langkah ini sangat penting bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk penderita HIV, diabetes, atau mereka yang menjalani pengobatan imunosupresif.

Mengenali Gejala dan Menjalani Diagnosis TBC

Deteksi dini TBC sangat penting untuk keberhasilan pengobatan. Gejala TBC dapat bervariasi tergantung pada bagian tubuh yang terkena, tetapi tanda-tanda umum meliputi:

  • Batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu
  • Nyeri dada
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Kelelahan ekstrem
  • Batuk berdarah (pada kasus yang lebih parah)

Orang yang mengalami gejala tersebut harus segera mencari pemeriksaan medis. Diagnosis TBC dilakukan melalui serangkaian tes medis. Tes kulit tuberkulin (TST) dan tes interferon-gamma release assay (IGRA) sering digunakan untuk menentukan apakah seseorang telah terpapar bakteri Mycobacterium tuberculosis. Namun, tes ini tidak dapat memastikan apakah infeksi sudah aktif.

Untuk diagnosis yang lebih pasti, dokter menggunakan tes dahak, rontgen dada, dan tes molekuler. Tes dahak dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari paru-paru untuk dianalisis keberadaan bakteri TBC. Tes molekuler memberikan hasil yang lebih cepat dan akurat, membantu dokter mendeteksi keberadaan bakteri TBC serta menentukan apakah strain tersebut resisten terhadap antibiotik. Diagnosis yang cepat tidak hanya meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan, tetapi juga mencegah penyebaran TBC ke orang lain.

Pengobatan Tuberkulosis yang Efektif

TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Pengobatan standar melibatkan konsumsi kombinasi antibiotik selama setidaknya enam bulan. Obat yang paling sering digunakan adalah:

  • Isoniazid
  • Rifampin
  • Ethambutol
  • Pyrazinamide

Keempat obat ini bekerja bersama untuk membunuh bakteri dan mencegah perkembangan resistensi antibiotik.

Penting bagi pasien untuk menyelesaikan seluruh pengobatan, bahkan jika mereka merasa lebih baik sebelum masa pengobatan selesai. Menghentikan pengobatan terlalu dini dapat menyebabkan TBC resisten obat, yang jauh lebih sulit diobati dan membutuhkan antibiotik yang lebih kuat serta beracun seperti bedaquiline dan linezolid. Pasien dengan TBC resisten obat mungkin harus menjalani pengobatan hingga dua tahun.

Selama menjalani pengobatan, pasien harus mematuhi instruksi dokter dengan ketat. Obat TBC dapat menyebabkan efek samping, seperti mual, gangguan hati, atau masalah penglihatan. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dengan dokter diperlukan untuk memastikan pengobatan bekerja dengan baik dan untuk mengelola efek samping yang mungkin muncul.

Pada kasus yang lebih parah, rawat inap mungkin diperlukan, terutama jika pasien mengalami gagal napas atau jika infeksi telah menyebar ke organ lain.

Peran Dokter Spesialis Paru dalam Perawatan TBC

Dokter spesialis paru memiliki peran penting dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit paru-paru, termasuk TBC. RS Abdi Waluyo memiliki tim dokter spesialis paru yang berpengalaman, yang menyediakan perawatan TBC secara komprehensif, mulai dari deteksi dini hingga rencana pengobatan lanjutan. Rumah sakit ini juga dilengkapi dengan teknologi diagnostik modern, pencitraan medis, dan laboratorium uji canggih untuk memastikan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang optimal bagi pasien TBC.


Resource :

  1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Edisi Revisi 2. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2021.
  2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Panduan Umum Praktik Klinis Penyakit Paru dan Pernapasan. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2021.
Chat with us