By: dr.Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K
Pulmonary embolism (PE) atau emboli paru adalah kondisi ketika bekuan darah menyumbat pembuluh darah di paru. Bekuan paling sering berasal dari pembuluh vena dalam di tungkai atau deep vein thrombosis (DVT), kemudian terbawa aliran darah menuju paru.
Kondisinya dapat bervariasi dari ringan hingga mengancam nyawa. Sumbatan yang besar dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah paru sehingga jantung kanan harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Bila tidak mampu mengatasinya, tekanan darah dapat turun dan pasien dapat mengalami syok, bahkan henti jantung.
Karena itu, pulmonary embolism merupakan kondisi yang membutuhkan diagnosis dan penilaian tingkat keparahan secara cepat.

Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala PE tidak selalu khas. Keluhan yang dapat muncul antara lain:
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba
- Nyeri dada, terutama ketika menarik napas
- Jantung berdebar atau denyut sangat cepat
- Batuk berdarah
- Pusing hingga pingsan
- Bengkak atau nyeri pada satu tungkai
Risikonya meningkat pada pasien yang baru menjalani operasi atau trauma, lama tidak bergerak, melakukan perjalanan panjang, mengalami kanker, obesitas, kehamilan dan masa setelah melahirkan, menggunakan terapi estrogen, memiliki riwayat DVT/PE sebelumnya, atau mengalami gangguan pembekuan darah tertentu.
Bagaimana Pulmonary Embolism Didiagnosis?
Dokter tidak langsung melakukan CT Scan pada semua pasien dengan sesak napas. Pemeriksaan dimulai dengan melihat gejala, faktor risiko, pemeriksaan fisik, serta probabilitas klinis.
Pada pasien dengan kemungkinan PE yang tidak tinggi, pemeriksaan D-dimer dapat membantu menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan.
Jika kecurigaan cukup tinggi, pemeriksaan utama adalah CT Pulmonary Angiography (CTPA). Pemeriksaan ini memungkinkan dokter melihat lokasi serta luas bekuan di dalam pembuluh darah paru.
Namun, setelah PE ditemukan, pertanyaan berikutnya justru sangat penting: “Seberapa berat emboli paru ini?”
Dokter akan melihat tekanan darah, kebutuhan oksigen, fungsi jantung kanan pada echocardiography atau CT, serta biomarker seperti troponin dan BNP/NT-proBNP. Guideline AHA/ACC 2026 bahkan memperkenalkan klasifikasi baru Category A–E, mulai dari PE tanpa gejala hingga PE dengan gagal jantung-paru, syok, atau henti jantung.

Apakah Semua Bekuan Harus “Dihancurkan”?
Tidak.
Antikoagulan atau obat pengencer darah tetap menjadi fondasi terapi PE. Obat ini tidak langsung menghancurkan bekuan, tetapi mencegah bekuan membesar dan mencegah terbentuknya bekuan baru, sementara tubuh secara bertahap menguraikan bekuan yang sudah ada.
Pada pasien yang stabil dan berisiko rendah, terapi ini sering kali sudah memadai. Guideline 2026 juga lebih memilih direct oral anticoagulants seperti apixaban atau rivaroxaban dibandingkan warfarin pada pasien yang memenuhi syarat.
Masalah muncul ketika bekuan sangat besar dan jantung kanan mulai gagal mengatasinya.
| Terapi | Kelebihan | Keterbatasan |
| Antikoagulan | Efektif pada sebagian besar PE dan risiko perdarahan relatif lebih rendah | Tidak segera menghilangkan sumbatan |
| Trombolisis sistemik | Dapat melarutkan bekuan dengan cepat dan menyelamatkan nyawa pada PE dengan syok | Obat beredar ke seluruh tubuh sehingga risiko perdarahan besar, termasuk perdarahan otak, meningkat |
| Operasi embolectomy | Bekuan dapat diangkat secara langsung | Lebih invasif dan membutuhkan pusat serta tim bedah berpengalaman |
| Catheter-directed therapy | Terapi diarahkan langsung ke pembuluh paru; dapat menggunakan dosis trombolitik lebih rendah atau mengangkat bekuan secara mekanis | Tetap merupakan prosedur invasif, membutuhkan cath lab dan tim terlatih, serta tidak diperlukan pada semua pasien |
Studi PEITHO sebelumnya menunjukkan mengapa trombolisis sistemik tidak diberikan rutin pada PE risiko menengah: terapi ini menurunkan risiko kolaps hemodinamik, tetapi meningkatkan perdarahan mayor dan stroke hemoragik.

Terapi Modern: Menangani Bekuan Langsung dari Dalam Pembuluh Darah
Perkembangan teknologi memungkinkan pulmonary embolism tertentu ditangani melalui catheter-directed therapy.
Kateter dimasukkan melalui pembuluh vena dan diarahkan menuju pembuluh darah paru tempat bekuan berada. Melalui pendekatan ini, dokter dapat melakukan terapi langsung di lokasi trombus.
Salah satu metode adalah catheter-directed thrombolysis, yaitu pemberian obat pelarut bekuan langsung ke lokasi sumbatan. Dengan pendekatan yang lebih terarah, jumlah obat trombolitik yang dibutuhkan dapat lebih rendah dibandingkan pemberian sistemik.
Teknologi tertentu juga mengombinasikan kateter dengan energi ultrasound untuk membantu penetrasi obat ke dalam struktur bekuan. Pendekatan lainnya adalah mechanical thrombectomy, yaitu mengaspirasi atau mengambil bekuan secara mekanis.
Keuntungan utama terapi berbasis kateter adalah:
- Terapi diarahkan langsung ke lokasi bekuan
- Potensi penggunaan dosis trombolitik yang lebih rendah
- Mengurangi beban pada jantung kanan secara lebih cepat pada pasien terpilih
- Minimally invasive dibandingkan operasi terbuka
Namun, tidak semua pasien PE membutuhkan tindakan ini. Keputusan ditentukan berdasarkan kondisi hemodinamik, fungsi jantung kanan, luas trombus, kebutuhan oksigen, risiko perdarahan, dan penyakit penyerta.
Penanganan Pulmonary Embolism di RS Abdi Waluyo
Penanganan PE idealnya membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin karena kondisi pasien dapat berubah dalam waktu singkat.
Di RS Abdi Waluyo, evaluasi dan tata laksana pulmonary embolism dapat dilakukan secara komprehensif, mulai dari diagnosis hingga terapi lanjutan, dengan dukungan:
- Pemeriksaan laboratorium dan biomarker jantung
- CT Scan / CT Pulmonary Angiography
- Echocardiography
- ECG dan monitoring kardiovaskular
- Perawatan intensif di ICU
- Catheterization Laboratory (Cathlab) dan Hybrid Cathlab
- Terapi antikoagulan dan trombolisis
- Intervensi berbasis kateter untuk pulmonary embolism pada pasien yang memenuhi indikasi
- Dukungan tim multidisiplin pulmonologi, penyakit dalam, kardiologi intervensi, intensive care, radiologi, dan bedah kardiotoraks sesuai kebutuhan pasien
RS Abdi Waluyo memiliki dua fasilitas Cathlab, termasuk Hybrid Cathlab, sehingga tindakan intervensi minimal invasif dapat dilakukan dengan dukungan pencitraan dan fasilitas kardiovaskular yang komprehensif.
Tujuannya bukan sekadar menghilangkan bekuan, tetapi menentukan terapi yang tepat untuk pasien yang tepat pada waktu yang tepat.
Jangan Abaikan Sesak yang Muncul Mendadak
Pulmonary embolism dapat berkembang cepat dan pada sebagian pasien tidak memberikan tanda khas sebelumnya. Bila mengalami sesak mendadak, nyeri dada, berdebar hebat, pingsan, batuk darah, atau bengkak pada salah satu tungkai, terutama setelah operasi, perjalanan panjang, atau periode tidak banyak bergerak, segera lakukan evaluasi medis.
Diagnosis dini, stratifikasi risiko yang akurat, dan akses terhadap berbagai pilihan terapi, mulai dari antikoagulan hingga intervensi berbasis kateter, dapat menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanganan pulmonary embolism.
Referensi
- Creager MA, Barnes GD, Giri J, et al. 2026 AHA/ACC/ACCP/ACEP/CHEST/SCAI/SHM/SIR/SVM/SVN Guideline for the Evaluation and Management of Acute Pulmonary Embolism in Adults. J Am Coll Cardiol. 2026.
- Konstantinides SV, Meyer G, Becattini C, et al. 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of acute pulmonary embolism. Eur Heart J. 2020;41:543–603.
- Meyer G, et al. Fibrinolysis for patients with intermediate-risk pulmonary embolism. N Engl J Med. 2014;370:1402–1411.
- Kucher N, et al. Randomized controlled trial of ultrasound-assisted catheter-directed thrombolysis for acute intermediate-risk pulmonary embolism. Circulation. 2014;129:479–486.
- Avgerinos ED, et al. Randomized trial comparing standard versus ultrasound-assisted thrombolysis for submassive pulmonary embolism: SUNSET sPE. JACC Cardiovasc Interv. 2021.
- Giri J, et al. Interventional therapies for acute pulmonary embolism: current status and principles for the development of novel evidence. Circulation. 2019.