By: dr.Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K
Banyak orang terkejut saat hasil medical check-up menunjukkan “fatty liver” atau hati berlemak, padahal sebelumnya merasa baik-baik saja. Inilah salah satu hal yang membuat penyakit ini sering terlambat disadari: fatty liver sering datang tanpa gejala yang jelas.
Dalam istilah yang lebih baru, kondisi ini disebut MASLD (metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease), yaitu penumpukan lemak di hati yang sangat erat kaitannya dengan gangguan metabolik seperti obesitas, resistensi insulin, diabetes, kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, dan lingkar perut berlebih.

Mengapa Fatty Liver Perlu Diperhatikan?
Hati adalah organ penting yang berperan dalam metabolisme gula, lemak, protein, detoksifikasi, dan penyimpanan energi. Saat lemak mulai menumpuk berlebihan di hati, fungsinya dapat terganggu. Pada tahap awal, kondisi ini mungkin masih ringan. Namun bila dibiarkan, sebagian pasien dapat mengalami peradangan hati, fibrosis, hingga sirosis.
Yang juga penting dipahami, fatty liver bukan hanya masalah hati. Pada banyak pasien, ini justru menjadi “alarm” bahwa tubuh sedang mengalami gangguan metabolik yang lebih luas. Karena itu, saat saya menjumpai pasien dengan fatty liver, saya biasanya tidak hanya melihat hasil liver imaging saja, tetapi juga menilai gula darah, profil lipid, tekanan darah, komposisi tubuh, dan faktor risiko metabolik lainnya.
Siapa yang Berisiko?
Fatty liver lebih sering ditemukan pada orang dengan:
- berat badan berlebih atau obesitas
- diabetes atau prediabetes
- trigliserida tinggi
- kolesterol tidak terkontrol
- lingkar perut yang membesar
- tekanan darah tinggi
- gaya hidup kurang aktif
Namun penting diingat, orang dengan berat badan yang tampak “tidak terlalu besar” pun tetap bisa mengalami fatty liver, terutama bila memiliki lemak visceral tinggi atau resistensi insulin.
Gejalanya Seperti Apa?
Pada banyak kasus, tidak ada gejala khas. Itulah mengapa fatty liver sering baru diketahui saat MCU, USG, atau pemeriksaan laboratorium rutin. Sebagian pasien mengeluhkan cepat lelah, rasa tidak nyaman di perut kanan atas, atau hasil enzim hati yang meningkat, tetapi keluhan ini tidak selalu ada.
Karena gejalanya sering minimal, penilaian dini menjadi penting, terutama bila seseorang memiliki faktor risiko metabolik.
Pemeriksaan Apa yang Dibutuhkan?
Evaluasi biasanya dimulai dari:
- wawancara dan pemeriksaan fisik
- pemeriksaan darah, termasuk fungsi hati, gula darah, dan profil lipid
- pencitraan hati bila diperlukan
USG abdomen masih sering menjadi pemeriksaan awal karena mudah diakses dan dapat membantu melihat gambaran hati berlemak. Namun bila kita ingin menilai lebih jauh apakah sudah ada kekakuan hati atau fibrosis, FibroScan menjadi sangat berguna. Pemeriksaan ini bersifat non-invasif dan dapat membantu menilai lemak hati (steatosis) serta kekakuan hati (fibrosis).
Grade MASLD (Steatosis Hati)
Derajat penumpukan lemak di hati umumnya dibagi menjadi:
- S0: tidak ada steatosis
- S1 (ringan): lemak < 33% dari sel hati
- S2 (sedang): lemak 34–66%
- S3 (berat): lemak > 66%
Penilaian ini dapat diperkirakan melalui USG atau lebih akurat dengan FibroScan menggunakan parameter CAP (Controlled Attenuation Parameter).
Grade Fibrosis (FibroScan)
FibroScan juga memberikan gambaran tingkat kekakuan hati yang berkaitan dengan fibrosis:
- F0–F1: tidak ada atau fibrosis ringan
- F2: fibrosis sedang
- F3: fibrosis berat
- F4: sirosis

Semakin tinggi derajat fibrosis, semakin penting untuk dilakukan pemantauan dan penanganan yang lebih intensif.
Lalu bagaimana dengan CT scan abdomen? CT dapat menunjukkan adanya steatosis hati dan kadang menemukan fatty liver secara insidental saat pasien menjalani pemeriksaan untuk keluhan lain. Namun dalam praktik, CT bukan selalu pemeriksaan pertama untuk semua pasien fatty liver. CT abdomen biasanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya bila dokter juga ingin menilai organ perut lain, menemukan temuan yang perlu diklarifikasi, atau saat ada pertanyaan klinis tambahan yang tidak cukup dijawab dengan pemeriksaan awal.

Apakah Fatty Liver Bisa Membaik?
Kabar baiknya: ya, pada banyak kasus fatty liver bisa membaik, terutama bila ditemukan sejak dini dan akar masalah metaboliknya diperbaiki. Terapi utama tetap dimulai dari perubahan gaya hidup.
Penurunan berat badan yang bertahap dan terukur memiliki dampak besar terhadap kesehatan hati. Secara umum, penurunan berat badan sekitar 5% dapat membantu mengurangi lemak hati, 7–10% dapat membantu memperbaiki peradangan hati, dan penurunan lebih besar dapat memberi manfaat lebih lanjut pada fibrosis pada pasien tertentu.
Selain itu, pola makan yang lebih teratur, mengurangi minuman manis dan ultra-processed food, meningkatkan asupan protein dan serat, serta rutin berolahraga sangat berperan dalam memperbaiki kondisi ini. Pada pasien tertentu, pengobatan komorbid seperti diabetes, obesitas, atau dislipidemia juga menjadi bagian penting dari terapi.
Kapan Harus Berkonsultasi?
Anda sebaiknya mempertimbangkan evaluasi lebih lanjut bila:
- hasil MCU menunjukkan fatty liver
- enzim hati meningkat
- Anda memiliki obesitas, diabetes, atau trigliserida tinggi
- lingkar perut terus bertambah
- berat badan sulit turun
- ada riwayat keluarga penyakit metabolik
Fatty liver bukan kondisi yang sebaiknya hanya “dipantau sambil menunggu”. Semakin awal dinilai, semakin besar peluang untuk mencegah perburukan.
Fatty liver adalah penyakit yang sering tidak bersuara, tetapi tidak boleh disepelekan. Di balik hasil USG atau check-up yang tampak sederhana, sering kali ada gangguan metabolik yang lebih luas. Karena itu, penanganannya harus komprehensif: bukan hanya melihat hati, tetapi juga melihat tubuh secara keseluruhan.
Jika Anda ingin mengevaluasi fatty liver dan menjalani program perbaikan metabolik secara lebih menyeluruh, Anda dapat berkonsultasi bersama saya melalui layanan terpadu di RS Abdi Waluyo.
Referensi :
- Rinella ME, et al. Konsensus multisociety 2023 memperbarui nomenklatur dari NAFLD menjadi MASLD untuk menekankan kaitan metabolik penyakit hati berlemak.
- Pedoman EASL–EASD–EASO 2024 menempatkan MASLD sebagai penyakit yang sangat terkait dengan obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik lain, serta menekankan penurunan berat badan, diet, dan aktivitas fisik sebagai terapi inti.
- AASLD Practice Guidance 2023 menyebut penurunan berat badan sekitar 3–5% sudah dapat memperbaiki steatosis, sedangkan perbaikan peradangan dan fibrosis biasanya memerlukan penurunan yang lebih besar.
- RadiologyInfo 2024 menjelaskan bahwa USG elastography/FibroScan dapat membantu menilai fibrosis hati secara non-invasif, sementara CT dan MRI dapat menunjukkan steatosis hati dalam konteks evaluasi radiologis.
- American Liver Foundation juga menekankan bahwa fatty liver sering ditemukan lewat pencitraan atau evaluasi enzim hati, dan kondisi ini sangat terkait dengan faktor metabolik.