Lupus dan kesuburan wanita: bagaimana mempersiapkan kehamilan pada lupus? - Abdi Waluyo Hospital
Juni 4, 2024

Lupus dan kesuburan wanita: bagaimana mempersiapkan kehamilan pada lupus?

rsaw

Oleh:  dr. Faisal Parlindungan, SpPD, K-R


Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang dapat memengaruhi berbagai sistem organ dalam tubuh. Meskipun tidak secara langsung menyebabkan infertilitas, lupus dapat menghadirkan tantangan unik bagi wanita yang ingin hamil. Salah satu tantangan utama yang dihadapi wanita dengan lupus yang ingin hamil adalah risiko flare atau kekambuhan penyakit lupus selama kehamilan. Flare lupus dapat memicu berbagai komplikasi, seperti kerusakan organ, tekanan darah tinggi, dan masalah pada plasenta yang dapat mengancam kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu, sangat penting bagi wanita dengan lupus untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan. Dokter akan mengevaluasi aktivitas penyakit, menyesuaikan pengobatan jika perlu, dan membantu merencanakan waktu yang optimal untuk hamil.

Selain flare, wanita dengan lupus juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan lainnya, seperti preeklampsia, sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet count), keguguran, prematuritas, gangguan pertumbuhan janin, kematian janin, lahir mati, BBLR dan lupus neonatal. Untuk meminimalkan risiko komplikasi, penting bagi wanita dengan lupus untuk mengoptimalkan kesehatan mereka sebelum hamil. Hal ini termasuk mengendalikan aktivitas penyakit lupus dengan pengobatan rutin, menjaga pola makan sehat, berolahraga teratur, mengelola stres, dan menghindari faktor risiko seperti merokok dan konsumsi alkohol.

Pemeriksaan Kehamilan

Setelah hamil, wanita dengan lupus harus melakukan pemeriksaan prenatal secara teratur dan lebih sering dibandingkan wanita tanpa lupus. Pemeriksaan ini akan melibatkan pemantauan ketat terhadap:

  • Aktivitas penyakit lupus
  • Keterlibatan organ
  • Riwayat pengobatan
  • Profil serologi terbaru termasuk anti-dsDNA, anri-Ro/La, antibodi APL dan komplemen
  • Kondisi medis lain (contoh: hipertensi, diabetes)
  • Riwayat obstetri sebelumnya
  • Tekanan darah, urinalisis
  • Pemeriksaan darah lengkap, ureum dan kreatinin, enzim hati, pemeriksaan organ lain secara spesifik
  • USG skrining

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien ada diklasifikasikan menjadi SLE remisi atau stabil, tahap awal atau aktif dan dengan kerusakan organ berat.

 

Pengobatan SLE saat Kehamilan

Pengobatan lupus selama kehamilan juga memerlukan perhatian khusus. Pasien hamil dengan SLE direkomendasikan mendapat aspirin sejak usia kehamilan 12 minggu. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk mengobati lupus, seperti metotreksat dan mikofenolat mofetil, dapat membahayakan janin dan harus dihentikan selama ≥ 3 bulan sebelum merencanakan hamil. Namun, obat lain, seperti hidroksiklorokuin dianggap aman selama kehamilan dan dapat membantu mengendalikan gejala lupus serta mencegah lupus neonatal. Obat lain seperti kortikosteroid dan imunosupresan diberikan sesuai derajat aktivitas penyakit.

Selama proses persalinan, penyesuaian dosis dilakukan kembali. Apabila pasien konsumsi kortikosteroid jangka panjang, maka perlu disiapkan hidrokotrison intravena untuk mengurangi stres fisik saat persalinan. Pasien dengan profilaksis standar low molecular weight heparin (LMWH) harus dihentikan saat persalinan spontan atau 24 jam sebelum induksi persalinan atau SC elektif. Paska persalinan juga perlu dilakukan pemantauan aktivitas penyakit dan risiko trombosis.

Penting untuk diingat bahwa setiap wanita dengan lupus memiliki situasi yang unik, dan rencana perawatan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Dukungan emosional juga sangat penting selama kehamilan. Bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa dapat membantu wanita dengan lupus merasa lebih percaya diri dan didukung selama perjalanan kehamilan mereka. Dengan perencanaan yang matang, pemantauan medis yang ketat, dan pemahaman yang baik tentang risiko yang terlibat, kehamilan yang sehat dan sukses bagi penderita lupus tetap mungkin terjadi.


Referensi:

  1. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Rekomendasi IRA untuk Diagnosis dan Penatalaksanaan Lupus Eritematosus Sistemik. Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM; Jakarta. 2019.
  2. Iozza I, Cianci S, Di Natale A, Garofalo G, Giacobbe AM, Giorgio E, et al. Update on systemic lupus erythematosus pregnancy. J Prenat Med. 2010 Oct;4(4):67–73.
  3. Dao KH, Bermas BL. Systemic Lupus Erythematosus Management in Pregnancy. Int J Womens Health. 2022;14:199–211.
  4. SauSLEcu IC, Opris-Belinski D, Balanescu AR, Pavel B, Gica N, Panaitescu AM. Preparing for Pregnancy in Women with Systemic Lupus Erythematosus-A Multidisciplinary Approach. Medicina (Kaunas). 2022 Sep 29;58(10):1371.
  5. Hamijoyo L, Martha JW, Hidayat S, Akbar MR, Tantono H, Sakasasmita S, et al. Risk Factors for Poor Pregnancy Outcome in Systemic Lupus Erythematosus Patients. Acta Med Indones. 2019 Apr;51(2):102–9.
Chat with us