Obesitas Bukan Sekadar Berat Badan Berlebih: Mengapa Perlu Dinilai Lebih Dini? - Abdi Waluyo Hospital
Juli 11, 2026

Obesitas Bukan Sekadar Berat Badan Berlebih: Mengapa Perlu Dinilai Lebih Dini?

rsaw

By: dr.Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K


Obesitas masih sering dianggap sekadar masalah penampilan atau kurang disiplin menjaga pola makan. Padahal, pandangan ini sudah tidak sesuai dengan ilmu kedokteran saat ini. World Health Organization (WHO) kini mendefinisikan obesitas sebagai penyakit kronik yang relapsing, artinya dapat berlangsung lama, berulang, dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, neurobiologi, hormon, perilaku makan, hingga lingkungan sehari-hari.

Artinya, obesitas bukan hanya soal “makan kebanyakan”. Ada orang yang secara genetik lebih rentan mengalami obesitas, ada yang mengalami gangguan regulasi lapar dan kenyang, ada juga yang tubuhnya lebih mudah menyimpan energi sebagai lemak, terutama bila aktivitas fisik rendah, tidur buruk, stres tinggi, dan pola makan tidak teratur. Karena itu, menyederhanakan obesitas sebagai masalah kemauan saja justru membuat banyak pasien terlambat mencari pertolongan.

Secara global, jumlah orang dengan overweight dan obesitas terus meningkat. Ini penting karena obesitas bukan hanya berdampak pada angka timbangan, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit lain. Karena itulah obesitas sering disebut sebagai “mother of all diseases” – bukan istilah resmi, tetapi menggambarkan betapa luas dampaknya terhadap kesehatan.

Lebih dari BMI: Kapan Seseorang Disebut Obesitas?

Selama ini masyarakat paling familiar dengan Body Mass Index (BMI) atau indeks massa tubuh. BMI dihitung dari berat badan dibagi tinggi badan kuadrat. Untuk populasi Asia-Pasifik, klasifikasinya lebih sensitif dibanding klasifikasi umum dunia, yaitu:

Namun, BMI tidak selalu cukup. Seseorang bisa memiliki BMI yang tidak terlalu tinggi, tetapi simpanan lemak tubuh, terutama lemak visceral, sudah berlebihan. Sebaliknya, ada juga orang dengan BMI tinggi tetapi massa ototnya dominan. Karena itu, pendekatan modern terhadap obesitas tidak berhenti di BMI saja.

Mengapa Lemak Visceral Berbahaya?

Tidak semua lemak sama. Lemak yang paling perlu diwaspadai adalah lemak visceral, yaitu lemak yang menumpuk di rongga perut dan mengelilingi organ-organ penting seperti hati, pankreas, jantung, dan ginjal. Lemak jenis ini jauh lebih aktif secara metabolik dan lebih mudah memicu peradangan kronik tingkat rendah, resistensi insulin, serta gangguan hormonal.

Akibatnya, obesitas dapat berhubungan dengan berbagai komplikasi, seperti:

  • diabetes tipe 2 dan prediabetes
  • hipertensi
  • kolesterol dan trigliserida tinggi
  • fatty liver atau hati berlemak
  • sleep apnea
  • asam urat
  • osteoartritis lutut
  • penyakit jantung dan pembuluh darah

Pada sebagian orang, keluhan awalnya justru tidak terlalu spesifik: cepat lelah, lingkar perut makin besar, tidur tidak segar, mudah sesak saat aktivitas, atau berat badan sulit turun walau sudah mencoba diet.

Kenapa Penilaian Obesitas Harus Lebih Menyeluruh?

Kini para ahli juga mulai menekankan bahwa obesitas sebaiknya dinilai bukan hanya dari angka BMI, tetapi juga dari dampaknya terhadap fungsi organ dan kualitas hidup. Dalam praktik klinis, saya sering menjelaskan bahwa ada pasien yang secara angka belum terlalu tinggi, tetapi sudah memiliki hipertensi, fatty liver, resistensi insulin, atau gangguan tidur. Ada juga pasien dengan angka BMI tinggi tetapi belum menunjukkan komplikasi yang nyata. Karena itu, pendekatannya harus individual.

Di sinilah pemeriksaan seperti lingkar perut, komposisi tubuh, dan Bioimpedance Analysis (BIA) menjadi sangat berguna. BIA dapat membantu menilai total lemak tubuh, massa otot, dan estimasi lemak visceral. Informasi ini penting karena target terapi obesitas seharusnya bukan sekadar “turun angka”, tetapi memperbaiki komposisi tubuh dan menurunkan risiko penyakit.

Pada pasien tertentu, evaluasi juga bisa dilengkapi dengan medical check-up (MCU) menyeluruh, termasuk pemeriksaan gula darah, profil lipid, fungsi hati, fungsi ginjal, tekanan darah, hingga penilaian risiko kardiometabolik lainnya.

Kapan Harus Mulai Evaluasi?

Evaluasi obesitas sebaiknya dipertimbangkan bila Anda mengalami satu atau lebih kondisi berikut:

  • lingkar perut meningkat
  • berat badan terus naik
  • sering lelah atau mudah ngantuk
  • tekanan darah, gula darah, atau kolesterol mulai naik
  • ada riwayat keluarga diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung
  • sudah mencoba menurunkan berat badan berulang kali tetapi tidak bertahan lama

Semakin dini obesitas dikenali, semakin besar peluang untuk memperbaiki kondisi sebelum muncul komplikasi yang lebih berat.

Obesitas bukan sekadar soal penampilan, dan bukan pula semata-mata soal kurang niat. Ini adalah penyakit kronik yang kompleks, dipengaruhi faktor biologis, hormonal, genetik, dan lingkungan. Karena itu, penanganannya juga harus komprehensif.

Menilai obesitas dengan tepat berarti melihat lebih dari angka timbangan: bagaimana distribusi lemaknya, apakah sudah ada dampak ke organ tubuh, dan bagaimana kondisi metabolik pasien secara keseluruhan. Dengan evaluasi yang tepat, termasuk pemeriksaan komposisi tubuh dan MCU bila diperlukan, terapi dapat disusun lebih personal, realistis, dan efektif untuk jangka panjang.

Jika Anda ingin memulai program penurunan berat badan yang lebih komprehensif dan sesuai dengan kondisi tubuh Anda, Anda dapat berkonsultasi bersama saya melalui layanan terpadu di RS Abdi Waluyo.


References :

  • World Health Organization. Obesity and overweight. 2025.
  • Rubino F, et al. Definition and diagnostic criteria of clinical obesity. Lancet Diabetes Endocrinol. 2025.
  • Lim JU, et al. Comparison of World Health Organization and Asia-Pacific body mass index classifications in COPD patients. Int J Chron Obstruct Pulmon Dis. 2017.
  • Okawa Y, et al. The Asia-Pacific Body Mass Index Classification and New Diagnostic Criteria for Obesity in Asians. Biomedicines. 2025.
  • Ahmed SK, et al. Obesity: Prevalence, causes, consequences, management, and emerging therapies. 2025 review.
Chat with us