Mengenal TMS, Alat Terbaru Terapi Stroke dan Sakit Kepala Berat - Abdi Waluyo Hospital
November 6, 2023

Mengenal TMS, Alat Terbaru Terapi Stroke dan Sakit Kepala Berat

rsaw

Oleh:  Thalia Kaylyn Averil


Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) adalah teknik yang digunakan untuk merangsang sel saraf otak menggunakan medan magnet. Prosedur ini disebut sebagai prosedur non-invasif karena prosedur ini tidak menggunakan sayatan atau pembedahan pada kulit. TMS umumnya digunakan sebagai pengobatan suportif, yaitu pengobatan yang dilakukan untuk membantu mengatasi gejala dari penyakit yang dialami sehingga dapat dilakukan selama pasien mendapatkan pengobatan utama. Stimulasi magnetik transkranial umumnya digunakan untuk mengobati stroke dan migrain. TMS, terutama repetitive TMS (rTMS), dapat berperan dalam terapi stroke karena TMS dapat memengaruhi pola aktivitas otak. Setelah pasien mengalami stroke, terjadi gangguan keseimbangan aktivitas otak pada otak yang terkena dampak dan otak yang tidak terkena dampak. TMS bertujuan untuk mengatasi ketidakseimbangan tersebut dengan meningkatkan aktivitas di bagian otak yang terkena stroke. Dalam pengobatan migrain, TMS berperan untuk mengontrol sel-sel saraf di otak yang hiperaktif sehingga dapat mengurangi nyeri yang dialami oleh penderita migrain.

 

Selain itu, TMS juga dapat digunakan untuk terapi penyakit-penyakit lainnya, seperti:

  • Gangguan depresi mayor
  • Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
  • Penghentian kebiasaan merokok atau kecanduan lainnya
  • Alzheimer
  • Gangguan bipolar
  • Borderline Personality Disorder (BPD)
  • Nyeri kronis
  • Gangguan makan
  • Tremor
  • Fibromialgia
  • Parkinson
  • Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
  • Skizofrenia
  • Tinnitus
  • Cedera otak traumatis

Listrik dan magnet adalah dua konsep fisika dasar yang bekerja sama dalam mendasari mekanisme kerja dari stimulasi magnetik transkranial. Magnet dapat menghasilkan medan magnet, yaitu ruang di sekitar magnet yang aktif secara magnetis. Listrik dihasilkan ketika magnet didekatkan pada benda yang konduktif karena adanya interaksi antara benda tersebut dan medan magnet. Di lain sisi, otak aktif secara elektrik yang berarti arus listrik kecil digunakan oleh neuron atau sel saraf yang berada di otak dan di saraf seluruh tubuh untuk mengirimkan dan menerima informasi antar organ tubuh. Aktivitas listrik otak ini dapat diubah dengan menempatkan magnet di dekatnya. TMS akan mengubah-ubah medan magnetnya dengan cepat untuk dapat menginduksi arus listrik ke lapisan superfisial korteks serebral  di otak yang berhubungan dengan penyakit yang akan diterapi.

Gambar 1. Alat stimulasi magnetik transkranial.

Stimulasi magnetik transkranial dapat dilakukan dengan berbagai cara yang terkait dengan teknik atau kekuatan magnetnya, yaitu:

  • Tesla (T) adalah satuan yang digunakan untuk mengukur kekuatan magnet. Mayoritas magnet TMS menghasilkan medan magnet antara 1.5T dan 2T yang sebanding dengan medan magnet yang dihasilkan oleh MRI. Namun, magnet yang digunakan untuk TMS jauh lebih kecil dibandingkan magnet untuk MRI sehingga medan magnet TMS juga menjadi jauh lebih kecil.
  • Setiap kali medan magnet hidup dan mati, denyut atau pulsa terbentuk. Frekuensi (diukur dalam hertz/Hz) adalah jumlah pulsa per detiknya. TMS dapat menggunakan pulsa frekuensi tinggi pada 5 Hz hingga 10 Hz atau pulsa frekuensi rendah pada 1 Hz. Frekuensi ini memengaruhi efek yang ditimbulkan oleh TMS, frekuensi rendah akan bersifat penghambatan, sedangkan frekuensi tinggi akan bersifat rangsang. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) adalah TMS yang menggunakan pulsa berulang.
  • Pola denyut yang berbeda juga dapat digunakan oleh TMS untuk tujuan terapeutik, contohnya adalah Theta Burst Stimulation (TBS). Tiga semburan 5 Hz terjadi selama TBS dengan total lima belas denyut dalam satu detik. Perawatan selesai lima atau enam kali lebih cepat saat menggunakan TBS dibandingkan saat menggunakan teknik lainnya.
  • Struktur otak yang berbeda dapat ditargetkan oleh jenis kumparan magnet yang berbeda. Deep TMS (dTMS) menggunakan kumparan helm berbentuk H akan menargetkan struktur otak yang lebih dalam daripada rTMS dan TBS. Studi menunjukkan bahwa dTMS berguna dalam pengobatan gangguan seperti gangguan obsesif kompulsif atau OCD.

 

Sebelum melakukan TMS, pasien harus melepaskan perhiasan atau kacamata berbahan dasar logam yang sedang digunakan. Selain itu, perlu juga diperhatikan untuk pasien yang memiliki implan logam di dalam tubuhnya karena magnet yang digunakan pada TMS dapat menarik implan tersebut sehingga menimbulkan rasa sakit pada pasien atau kerusakan pada alat. Setelah itu, pasien akan diarahkan untuk duduk di kursi yang terletak di samping atau di bawah magnet. Pasien akan diberikan penutup telinga atau pelindung kepala karena suara magnet yang dihasilkan oleh TMS cukup keras. Tenaga kesehatan akan menstimulasi kulit kepala dengan satu denyut untuk membantu menentukan tempat yang ideal sebelum memulai perawatan. Kekuatan denyut akan ditingkatkan secara bertahap, pasien mungkin akan merasakan sensasi seperti ketukan dari magnet. TMS dapat berlangsung selama kurang lebih 30 menit sampai 1 jam per pasien.

Gambar 2. Stimulasi magnetik transkranial.

Lalu, apa saja kelebihan dari terapi menggunakan stimulasi magnetik transkranial? 

  • TMS adalah prosedur non-invasif yang berarti tidak dilakukan anestesi dan pembedahan pada pasien. Oleh karena itu, pasien dapat langsung pulang dan melanjutkan aktivitas secara normal setelah terapi
  • TMS sangat jarang menyebabkan efek samping pada pasien
  • Tingkat keberhasilan TMS berbeda-beda tergantung pada kondisi pasien, tetapi efektivitas TMS sangat tinggi menurut studi saat ini
  • TMS dapat digunakan bersama dengan terapi lainnya untuk mencapai hasil yang maksimal

Unduh Brosur

 

 

 

Chat with us